The Autumn Of My Heart

semua masih sama
Tak pernah ada yang berbeda
Aku, cinta ini, dan setiap rindu yang selalu hadir.
 
Tatapan matamu yang selalu terbayang
Senyummu yang tidak pernah lepas dari bayang-bayang imajiku
Dan harapan yang selalu ada di dalam hatiku.
Harapan agar aku juga ada dipikiranmu.
 
Saat ini aku merasakan perasaan yang biasa dirasakan para remaja sebayaku. Perasaan yang tak asing lagi dirasakan—tapi sangat asing bagiku, perasaan dimana-mana ada dirinya, perasaan senang saat melihatnya, perasaan grogi saat didekatnya dan perasaan rindu saat tak menemui dirinya. Mungkin untuk sebagian orang perasaan ini terlalu biasa, tapi tidak untukku. Bagiku ini yang pertama.
 
Empat musim di Tokyo sudah berlalu, dan kini kembali lagi pada musim gugur. Dimana daun yang berubah warna menjadi kuning keemasan atau merah marun, memancarkan keindahan tersendiri seiring angin musim gugur menyapa pepohonan yang perlahan melepaskan daun-daun mereka berguguran ke tanah. Suhu yang sejukpun berangsur-angsur berubah menjadi dingin. Hmmm, aku menyukainya.
“Nana,” terdengar seseorang memanggilku dari belakang, aku hanya menoleh, dan saat tau itu Shinzei, senyum renyahku langsung terukir. “Kamu ini melamun saja, aku sudah ribuan kali memanggilmu, tapi tetap saja kamu tidak mendengarnya!” serunya, menatap sinis mataku.
“Maaf, aku tak mendengarnya” ucapku santai.
“Kamu ini!” matanya masih terlihat jengkel. Tampan sekali.
“Shinzei, kamu jelek sekali bila sedang marah seperti ini!” ejekku, dan aku segera berlari, ia mengejarku.
 
Dibawah pepohonan momoji kami saling mengejar dan bercanda riang. Rasanya indah dan bahagia sekali saat mendengar tawa riangnya. Selain mengagumi keindahan sakura dimusim semi, aku juga mengagumi keindah daun momoji yang selalu bisa membuatku takjub. Warnanya yang kuning, kecokelatan, merah, oranye, semua bercampur dalam komposisi yang luar biasa indahnya. Ditambah ada dirinya yang menemaniku—Shinzei.
 
Aku selalu menikmati tiap detik kebersamaan ku dengan Shinzei. Dia sahabat yang selalu ada untukku—dalam keadaan apapun. Dia yang selama ini diam-diam aku kagumi. Setiap matanya menatap dalam mataku, semua seakan berubah. Rasanya aku ingin waktu tak lagi berputar saat aku bersama. Terlihat bodoh mungkin. Hanya mengangumi dalam diam, karena aku tidak mampu berbicara tentang hatiku.
 
Ada yang tiba-tiba berjegolak
Sesaat setelah senyum itu.
Ada yang mampu membuatku terdiam
Sesaat tatapan teduh itu memandangku.
 
“Nana, apa kita akan selalu menjadi sahabat yang seperti ini?” tanyanya, yang langsung membuat debaran hebat dihatiku.
 
“Mengapa dia berkata sepeti ini?” ucapku dalam batin.
 
“Kamu ini selalu saja melamun!” ucapnya sedikit geram.
 
“Maaf, iyaa kita akan selalu menjadi sahabat yang seperti ini!” ucapku. Apa yang aku ucapkan padanya tidak sama dengan apa yang ada didalam hatiku.
 
“Aku ingin selalu menjadi sahabatmu yang tidak akan pernah letih berada disampingmu dalam keadaan apapun Nana,” ucapnya menatap dalam mataku.
 
Jangan menatapku seperti itu, itu hanya memperdalam luka yang tidak mampu ku ganjal dengan apapun. Mungkin aku yang salah mengagumimu dalam diam. Mungkin aku memang bodoh selalu menunggu waktu dan berharap agar kamu merasakan apa yang aku rasakan. Mungkin aku terlalu optimis, berharap kamu juga memikirkanku. Tapi pada kenyataannya ini pahit yang aku buat sendiri. Harusnya tidak pernah ada perasaan yang seperti ini. Tapi apa boleh buat, semua yang terjadi tidak bisa lagi terulang. Aku hanya bisa belajar dari semua kepahitan ini, mungkin juga belajar berhenti mengagumi sahabtaku.
 
Rasanya tak ada lagi kata indah yang mampu aku torehkan. Hanya luka dalam yang tersimpan rapat dalam hatiku. Tak ada lagi harapan saat tawa riang itu ku dapati. Hanya rasa sakit yang singgah sesaat yang aku rasakan. Tak ingin lagi ada gambar dirinya dipikiranku. Tak ingin lagi ada dirinya dihidupku. Tapi aku tak bisa. Ingin menjauh, tapi terlalu egois bila seperti itu. Aku hanya bisa mengikuti arus kehidupan karena aku terlalu takut melawan arus.Aku sangat tau ini sebuah resiko pada sebuah cinta yang terpendam dalam diam. Mungkin ini sebuah pelajaran proses kedewasaan yang aku dapati dimusim gugur. Cukup tersenyum dan berkata dalam hati hari ini sebuah pelajaran, dan besok adalah praktek dimana tidak akan terulang kembali kesalahan seperti hari ini, dan semua akan baik-baik saja.
 
Advertisements

Sahabat

Image

 

Lihatlah gambar kami berlima diatas. Betapa bahagianya kami, betapa cerianya dan betapa beruntungnya kami karena dapat saling mengenal. Kami adalah lima orang wanita yang saling dan saling membutuhkan. Membutuhkan disaat susah, sedih, kecewa, dan bahagia.