Tentang Desember tahun ini

Aku mulai jatuh cinta pada gerimis Desember. Rasanya nyaman ketika memandanginya terus-terusan di tepi jendela kamarku. Biarkan saja ribuan rintik air itu jatuh.Biarkan saja gerimis Desember pelahan-lahan menghapus luka ini. Aku suka. Aku merasa nyaman.  Jangan bedecak kesal karenanya. Jangan merasa terganggu karenanya.  Tapi aku mulai takut saat gerimis mulai mereda, takut bila ada yang menyusut saat gerimis mulai surut. Takut jika ada yang hilang lagi.
Desember, ku ingin penuh ceria. Ku ingin penuh bahagia. Mungkin itu hanya inginku saja. Diawal Desember memang masih ada sedikit rasa bahagia itu. Saat Bersama sahabat, ia benar-benar membuatku merasa bahagia. Sangat dan sangat. Lalu ketika hari kelahiranku tiba, semua bagaikan gelap seperti awan mendung yang menutupi matahari. Kebahagiaan itu hanya sesaat, yang ada saat ini hanya luka yang menggores perih hati ini. Lagi dan lagi. Sudah biasa! Aku sudah biasa merasakan ini. Bosan. Muak.  Ingin lari. Tak berubah. Aku membencinya. Benci dan benci. Terlalu banyak sesak. Terlalu banyak gemuruh. Terlalu banyak  penat. Aaah pokoknya terlalu banyak macam-macam kata yang sering mampir untuk membuat perih hati ini. Aku sudah bilang, ini sudah biasa ku rasakan. Menahan sakit sendiri. Menahan perih yang tak akan pernah bisa sembuh. Aku benci. Ckkk, terlalu banyak kata benci yang terucap.
 
Rasanya  ingin tak bernapas lagi. Karena sudah tak ada ruang kosong untuk ku taruh perih ini dimana lagi.
Gambar
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s