Sakura In Spring

Bola api jingga itu sudah hampir tenggelam, setelah seharian menemaniku bermain, tersenyum renyah, dan tertawa riang bersama Kenzo. Saat ini aku terlalu bahagia sampai aku lupa kapan terakhir aku bersedih.

“Yura, apa kamu bahagia saat bersamaku?” Kenzo bertanya dengan tatapan yang terus menatap mataku lekat. Dengan semangat aku menganggukan pelan kepalaku, diikuti dengan segaris senyum riangku.

Hening yang tercipta saat ini. Perlahan aku menjatuhkan kepalaku pada bahunya. Rasanya nyaman sekali. Rasanya aku rela bila waktu tiba-tiba akan berhenti sampai disini.
“Aku mencintaimu Kenzo!” seruku yang kini sedang menikmati indahnya senja yang hampir lenyap.

“Yura, aku harus pergi! Malam sudah hampir tiba! Selamat tinggal Yuraku” ia ingin pergi meninggalkan aku lagi. Aku sudah coba menahannya untuk tetap disini menemaniku, tapi aaagrh sial aku tak berhasil sayapnya sudah muncul! Senja sudah membawanya pulang. Kini aku sendiri.
Aku sendiri tanpa Kenzo disisiku, aku kesepian tanpa hadirnya menemaniku, dan aku merindukan semua tentangnya! “Kenzo, datanglah padaku, aku merindukanmu!” ucapku sangat lirih.
“Tenanglah Yura, aku ada didekat kamu, walau kamu tidak bisa melihatku. Aku mencintaimu Yuraku.”

“Kenzo, kamu dimana? Aku merindukanmu.” air mataku tumpah seketika saat suara lembut Kenzo terniang merdu ditelingaku.

“Tenanglah Yura, kita pasti akan menikmati indahnya bunga sakura yang mulai bermekaran berdua. Hanya berdua.”

Suara itu sangat lembut. Suara itu begitu merdu. Kapan kamu akan kembali lagi padaku Kenzo? Kapan senja tak lagi mengajakmu pulang?

Senja, kamu begitu indah tapi kamu terlalu jahat padaku! kamu mengambil Kenzo dari sisiku. Aku bingung, sebenarnya kamu ini siapa? Apa kamu cemburu Kenzo mencintaiku? Aku membencimu senja! Sejak saat ini.

“Kenzo, aku mencintaimu! Aku tidak peduli kamu mahluk jenis apa!”

***
Bunga sakura sudah bermekaran. Terlihat begitu cantik dengan warna merah muda. Bahkan sangat muda sehingga ia tampak agak putih. Kenzo, ia belum juga kembali sejak suara lembutnya terniang merdu 2 minggu yang lalu. Musim semi kini sudah tiba sejak pekan lalu, tetapi mengapa Kenzo masih membiarkan aku terus merindukannya? Aku masih menunggumu Kenzo! Sampai kapanpun.

Tokyo, 1 April 2012. Hari ini Hanami-memandang dan menikmati bunga sakura. Setelah ini daun bunga yang tipis dan sangat rentan terkena hembusan angin musim semi akan berguguran. Taman-taman yang tebal diselimuti bunga sakura tidak ada lagi.

Pagi inipun terlihat begitu bersahabat, aku berniat tidak berangkat sekolah dan pergi mengunjungi Taman Pemakaman Aoyama, tempat dimana pertama kalinya aku berjumpa, mengenal, dan kemudian jatuh cinta kepada Kenzo. Aku sangat berharap ia ada disana, menungguku karena merindukanku.
“Yura,” seseorang terdengar memanggil namaku, aku menghentikan langkah dan menoleh.

“Pak Akito?” ucapku begitu terkejut saat tau ia Pak Akito, ia adalah guruku disekolah.

“Apakah kamu sedang menuju ke sekolah?” tanyanya tersenyum kecil padaku.

“Ten-tentu saja,” jawabku sedikit gugup.

“Kalau begitu, bagaimana bila kamu berangkat bersama denganku?”

“Baiklah pak,” dengan terpaksa aku menyetujuinya.

***

Bel berbunyi terlalu lama, membuatku merasa jenuh berada di kelas ini. Aku tak menyukai semua orang yang ada di sini. Kiran, Heiko, Matzuma dan Chera, mereka yang paling tidak aku sukai. Mereka begitu jahat padaku, mereka sering mengerjai dan senang menertawaiku. Aku benci dengan mereka. Hanya Kenzo yang membuat hariku lebih indah.

5 menit saja izinkan aku bertemu kembali denganmu.
 Biarkan aku berada didekap hangat tubuhmu.

Debaran yang sedang mengguncang hatiku. Kini sangat dapat ku artikan.
Rindu, itulah namanya.
Seperti banyaknya bunga sakura yang saat ini bermekaran.
Maka sebanyak itulah, rasa rindu yang terpendam untukmu.
Untukmu Kenzo.

“Apa ini?” tanya Heiko, merebut selembar kertas yang sedang ku tulis.

“Hei, itu milikku!” dengan kesal aku kembali merebut kertas yang sedang ku tulis.

“Gadis aneh!” ia menghinaku disertain senyum sinis.

“Kamu terlalu bodoh Heiko! Aku membencimu!” ucapku menajap tajam matanya.
“Kamu terlihat semakin aneh saat kamu sedang marah Yura,” teriak Matzuma padaku, membuat seisi kelas mengarah padaku.

“Hahahaha,” Heiko, Kiran, dan Chera menertawaiku puas.

Heiko Akata, ia yang paling sering menggangguku. Apa aku terlalu aneh, sampai ia terlihat begitu tak menyukaiku? dan mereka-Kiran, Matzuma dan Chera. Mengapa mereka selalu patuh pada semua perkataan Heiko? Mereka begitu bodoh bukan?

***
Siang ini, sepulang sekolah aku kembali berniat mengunjungi Taman Pemakaman Aoyama. Aku sangat berharap Kenzo berada disana. Aku terus melangkah lurus, memperhatikan detail taman ini. Sekarang aku berhenti dibawah pohon sakura yang terlihat cantik.

“Kenzo, kamu dimana?” teriakku.

“Kenzo…” aku terus memanggilnya.

“Aku merindukanmu!” ucapku sekali lagi. Kemudian aku diam. Aku duduk memeluk lututku dengan air mata yang terus saja mengalir.

“Yura, maaf aku tidak bisa kembali lagi padamu. Maafkan aku Yura,” lagi-lagi suaranya terniang lembut di telingaku.

“Kenzo, kamu dimana? Aku merindukanmu. Datanglah!” ucapku lirih. Mengapa? Mengapa, hanya ada terdengar suaranya? Mengapa ia tak menemuiku langsung?

“Yura,  sekali lagi maafkan aku, maafkan aku telah membuatmu jatuh cinta kepadaku, maafkan aku karena telah masuk ke dalam hidupmu terlalu jauh. Maafkan aku Yura,” suara Kenzo terdengar lagi.

Samar-samar mataku mulai dapat menangkap bayang-bayang wajahnya. Wajah putihnya terlihat pucat, rambut coklatnyapun terlihat tak beraturan, tetapi wajahnya masih tampan, ia tersenyum padaku. Senyum renyahnya begitu manis. Aku mencoba menyentuhnya tapi sial! Mengapa tanganku menebus tubuhnya. Kenzo mengapa aku tak bisa menyentuhmu lagi?

“Kenzo, kenapa aku ta-tak bisa menyentuhmu?” menahan tangis, membuat nada suaraku gemetar. Perasaan tak enak menyelinap dalam sanubariku.

“Maafkan aku telah membuat air matamu jatuh. Aku mencintaimu Yuraku. Sangat dan sangat mencintaimu.” ia tersenyum padaku. Bukan senyum kebahagiaan. Tetapi senyum kesedihan. Matanya berkaca-kaca.

“Tetapi mengapa?”

“Anggaplah aku mimpi indahmu. Jangan sedih dan jangan menangis. Aku bukan manusia sepertimu Yura. Aku bukan mahluk bumi. Aku hanyalah seorang mahluk yang menyerupai manusia. Aku hanya ingin melihat indahnya bunga sakura di musim semi karena planetku tidak ada bunga sakura. Tetapi aku bertemu denganmu dan jatuh cinta padamu. Jatuh cinta kepada manusia bumi membuatku harus kembali ke asalku. Maafkan aku kareana aku tak boleh jatuh cinta padamu. Aku mencintaimu!”

Perlahan bayang-bayangnya hilang, sayapnya kembali muncul seperti biasanya. Yang berbeda hanya senja, bukan senja yang membawanya pergi. Tapi sayapnya dan sekarang ia benar-benar pergi dariku. Tak ada lagi Kenzo. Tak ada lagi hari-hari indah bersamanya. Yang tersisa hanyalah kenangan. Kenzo mengapa kamu pergi dariku?

“Kennzoo…” teriakku lirih.

“Yura, kamu kenapa?” perlahan aku membuka mataku yang kini terpejam, aku bingung mengapa aku bisa berada di kamarku? Dan saat pertama aku membuka mata ini, Ibu yang pertama kali aku lihat. Aneh!

“Ibu, mengapa aku berada disini?” tanyaku seraya bangkit dari tidurku.

“Kamu ditemukan sedang pingsan di Taman Pemakaman Aoyama, lalu temanmu Heiko yang membawamu pulang” ucap ibu tersenyum padaku.

“Apa Heiko? Apa ibu yakin itu Heiko? Bukan Kenzo?” tanyaku hampir tak percaya.

“Yah, ibu sangat yakin itu adalah Heiko teman sekelasmu!” seru ibu meyakinkan.

Aku hanya diam setelah ibu pergi dari kamarku. Betapa tak percayanya aku, mengapa saat aku sedang bersama Kenzo tiba-tiba aku berada di kamar dan satu hal lagi yang sangat-sangat tak aku percayai, aku pingsan dan Heiko yang membawaku ke rumah. Sekarang ada festifal bunga sakura di Taman  Ueno. Aku harus kesana, dan bertemu dengan Heiko.

***

Sakura memang selalu mengundang decak kagum. Saat bermekaran pohon ini didominasikan dengan warna-warna putih & merah jambu. Sedikitpun tidak ada warna hijau. Sayangnya bunga-bunga sakura yang bermekaran tidak bisa bertahan lama. Bunga sakura hanya bertahan selam 7 sampai 10 hari. Setelah itu bunga sakura mulai berguguran & berganti menjadi warna kehijauan.

Aku sudah siap dengan kimono putih dengan pita merah muda yang melingkar indah dipinggangku juga rambut biruku yang panjang ku biarkan terurai. Ibu juga sudah mempersiapkan  makanan dan sake untukku dan ayah. Ake teringat lagi pada Kenzo. Tapi tak akan mungkin kembali lagi padaku. Aku akan mencoba bahagia tanpanya. Sesampainya di Taman  Ueno aku mencari-cari Heiko. Ia pasti berada disini. Aku yakin dan sangat yakin itu.

“Ibu, ayah aku ingin berjalan-jalan sebentar,” ucapku meminta izin pada ibu dan ayah.

“Baiklah,” ayah mengizinkan.

Aku menelusuri Taman ini, ribuan orang bekunjung kesini, membuatku sulit menemukan Heiko. Aku hanya ingin bertanya padanya, mengapa aku pingsan saat aku berada di Taman Pemakaman Aoyama.

“Yura Hana, kamu terlihat cantik dengan kimonomu.” Seseorang yang berada dibelakangku mengatakan itu, aku menoleh dan ternyata ia adalah Heiko.

“Heiko,?” ucapku terkejut.

“Apa kamu sedang mencariku?” tanyanya disertai senyum.

“Bagaimana kau tau?”

“Aku tau, bukankah kamu selama ini diam-diam menyukaiku?” tanyanya dengan sangat percaya diri.

“Kamu ini,”

“Sudahlah kamu mengaku saja,” godanya.

“Aku ingin menanyakan sesuatu padamu, “ ucapku.

“Apa?” tanyanya.

“Bagaimana kamu bisa menemukanku saat aku sedang barada di Taman Pemakaman Aoyama?”

“oh ituu, saat aku sedang kesana lalu aku melihat kamu sedang menangis dan aku segera menghampirimu. Ketika aku menghmpirimu tiba-tiba kamu sudah tersungkur diatas tanah. Kemudian aku segera membawamu ke rumahmu.” Jelasnya.

“Apa kamu tidak bertemu dengan Kenzo?” tanyaku sedikit lirih.

“Kenzo? Siapa dia?”

“Dia adalah sesorang yang kini aku cintai” bulir-bulir bening itu tiba-tiba saja membasahi pipiku.

“Aku pikir kamu tidak mempunyai seorang kekasih”

“Tapi Kenzo bukan manusia, akupun tidak tau ia mahluk yang berasal dari mana, yang jelas ia mencintaiku dan sangat baik terhadapku!” seruku seraya menghapus bulir-bulir bening itu.

“Yura, bolehkah aku minta maaf padamu?” tanyanya memelas.
“Apa? Barusan kamu berbicara apa?” tanyaku seakan tidak percaya atas ucapanya.

“Kamu ini punya telinga untuk apa?”

“Yaaah, untuk mendengar” aku sedikit mengukir senyum.

“Kamu tuli bila kamu tidak mendengar apa yang tadi aku ucapkan!” serunya seraya menghela napasnya pelan.

“Yaah, tapi aku mau dengar sekali lagi!” tegasku.

“Aku minta maaf nona Yura Hana!” ucapnya tersenyum renyah padaku.

“Berhubung aku ini orang yang baik hati, jadi aku memaafkanmu” aku membalas senyum renyahnya.

“Jadi sekarang kita berteman?”

“Tentu saja” ucapku seraya menganggukan pelan kepalaku.

“Aku menyukaimu Yura Hana!”

“Apa?” tanyaku terkejut.

“Aku menyukaimu karena kamu aneh! Kamu pendiam dan kalu sangat pelit untuk berbicara. Itu alasan aku menyukaimu.”

“Tapi mengapa kamu seakan membenciku?”

“Aku tidak membencimu, aku hanya mencari perhatianmu agar aku dapat mendengar suaramu!”

“Tapi maaf aku tidak menyukaimu karena aku mencintai Kenzo,”

“Kenzo hanya hayalanmu saja!” serunya.

“Tidak Heiko! Ia benar-benar ada dan nyata!” bentakku.

“Tapi Yura—“ belum sempat ia menyelesaikan ucapannya aku sudah memotongnya.

“Bila kamu tidak ingin aku marah kepadamu, lebih baik kamu diam!” seruku.

“Baiklah, aku akan diam dan aku akan menunggu kamu sampai kamu mau belajar menyukaiku!” ia tersenyum padaku.

***

Akan ada orang baru yang jauh lebih baik setelah orang lama pergi. Tapi tidak untukku! Walau ada banyak orang baru yang kini dekat dan sama baiknya dengan Kenzo, tapi tetap saja Kenzo adalah seorang yang sangat baik, bahkan lebih baik dari mereka yang kini bersamaku. Heiko, Kiran, Matzuma dan Chera, mereka sekarang tidak lagi jahat padaku. Bahkan Heiko ternyata diam-diam menyukaiku dan karena aku terlalu pendiam di kelas jadi ia berusaha ingin mendengar suaraku dengan cara menjahili, mengerjai, dan menghinaku. Ini adalah sebuah keajaiban musim semi yang paling indah.

Saat ini aku sedang berada di Taman Pemakaman Aoyama. Aku masih ingin memastikan, apa Kenzo benar-benar sudah pergi.

“Kenzo aku tak peduli kamu ini jenis apa. Aku aku akan mencintaimu sampai kamu datang kembali padaku” teriakku lantang.

“Kenzooo, datanglah padaku,” sekali lagi aku berteriak keras memanggilnya. Tapi ia tak juga muncul. Sudahlah aku akan pergi karena senjapun akan segera pergi. Senja maaf karena aku pernah membencimu.

“Yura Hana,” panggil seseorang membuatku terkejut dengan suara yang begtu sangat aku hafal. Kenzo? Iya benar itu suara Kenzo! Dengan senang aku menoleh.

“Kenzo,? Apa benar kamu Kenzo?” tanyaku tak percaya.

“Benar Yuraku, kamu terlihat cantik hari ini” ia memelukku.

“Kenzo apa kamu tiak akan meninggalkanku lagi?” tanyaku melepaskan pelukkannya.

“Maaf Yuraku, aku menemuimu hanya ingin mengatakan kamu tidak boleh mencintaiku lagi. Kamu harus belajar mencintai orang lain selain aku” ia tersenyum dengan sayapnya yang mulai muncul. Aku sangat tau ini pertanda bahwa ia akan menghilang. Ia tersenyum lagi padaku dan kemudian ia mengucup lembut keningku.

“Cobalah belajar mencintai seseorang. Bila kamu merindukaku lihatlah bunga-bunga sakura yang kini berjatuhan seperti salju. Kamu harus tau, aku mencintai kamu Yuraku. Tapi lupakanlah aku!” perlahan sayapnya mulai bergerak. Matakupun sudah tak bisa menangkap bayangnya. Ia menghilang, dan kali ini benar-benar tidak akan kembali.

“Kenzoo,” teriakku.

Oh tidak! Kali ini aku hanya bermimpi. Mengapa hanya mimpi? Apa ia hanya menemuiku lewat mimpi? Ia menyuruhku belajar mencintai seseorang! Apa aku harus mencintai Heiko?

Aku akan menemui Heiko dan bilang aku akan belajar menyukainya. Aku yakin aku bisa menyukainya. Cinta datang karena terbiasa. Terbiasa bersamanya.

Image

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s